Sample Text

Total Pageviews

Jam

Facebook Pages

Google +

Our Topics

Affiliates

Poll

About Us

Resource

Diberdayakan oleh Blogger.

Ads 468x60px

Social Icons

Followers

About Me

Featured Posts

Home » » Pengertian Nilai

Pengertian Nilai


1.        Pengertian Nilai
Setiap manusia tentu melakukan suatu aktivitas dan tindakan untuk mencapai tujuan yang ia harapkan. Pada kenyataannya tidak sedikit orang yang melakukan segala tindakan untuk mencapai tujuannya, baik itu berupa tindakan baik maupun tindakan buruk. Yang terpenting ia mampu mencapai tujuan yang ia harapkan. Dalam hal ini, perlu adanya suatu patokan atau tolak ukur untuk mengatur tindakan manusia. Antara norma dengan nilai itu saling berkaitan, yang mana dalam nilai terdapat norma dan aturan yang berfungsi sebagai pedoman untuk menentukan baik atau buruknya suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Namun, sebelum membahas terlalu jauh mengenai nilai-nilai yang ada di masyarakat, organisasi maupun pendidikan terlebih dahulu harus memhami apa itu nilai. Dengan begitu kedepannya kita dapat mengidentifikasi bentuk-bentuk dari nilai.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berkaitan dengan nilai. Misalkan kita mengatakan bahwa orang itu baik atau lukisan itu indah. Berarti kita melakukan penilaian terhadap suatu objek. Baik dan indah adalah contoh nilai. Manusia memberikan nilai pada sesuatu. Sesuatu itu dikatakan adil, baik, cantik, anggun, dan sebagainya.
Istilah nilai (value) menurut kamus poerwodarminto diartikan sebagai berikut.
a.         Harga dalam arti taksiran, misalnya nilai emas.
b.         Harga sesuatu, misalnya orang.
c.         Angka, skor.
d.        Kadar, mutu.
e.         Sifat-sifat atau hal penting bagi kemanusiaan.

Beberapa pendapat tentang pengertian nilai dapat diuraikan sebagai berikut.
a.         Menurut bambang daroeso, nilai adalah suatu kualitas atau pengahargaan terhadap sesuatu, yang menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang.
b.         Menurut darji darmodiharjo adalah kualitas atau keadaan yang bermanfaat bagi manusia baik lahir ataupun batin.
Sehingga nilai merupakan suatu bentuk penghargaan serta keadaan yang bermanfaat bagi manusia sebagai penentu dan acuan dalam melakukan suatu tindakan. Yang mana dengan adanya nilai maka seseorang dapat menentukan bagaimana ia harus bertingkah laku agar tingkah lakunya tersebut tidak menyimpang dari norma yang berlaku, karena di dalam nilai terdapat norma – norma yang dijadikan suatu batasan tingkah laku seseorang.
Seuatu dianggap bernilai apabila sesuatu itu memilki sifat sebagai berikut.
a.       Menyenangkan (peasent)
b.      Berguna (useful)
c.       Memuaskan (satisfying)
d.      Menguntungkan (profutable)
e.       Menarik (ineteresting)
f.       Keyakinan (belief)[1]
Ada dua pendapat mengenai nilai. Pertama mengatakan bahwa nilai objektif. Sedangkan pendapat kedua mengatakan nilai itu subjektif. Menurut aliran idealisme, nilai itu objekti, ada pada setiap sesuatu. Tidak ada yang diciptakan di dunia tanpa ada suatu nilai yang melekat di dalamnya. Dengan demikian, segala sesuatu ada nilainya dan bernilai bagi manusia. Hanya saja manusia tidak atau belum tahu nilai apa dari objek tersebut. Aliran ini disebut  juga aliran objektivisme.
Pendapat lain menyatakan bahwa nilai suatu objek terletak pada objek yang menilainya. Misalnya, air menjadi sangat bernilai daripada emas bagi orang yang kehausan di tengah padang pasir, tanah memiliki nilai bagi seorang petani, gunung bernilai bagi orang seorang pelukis, dan sebagainya. Jadi, nilai itu subjektif. Aliran ini disebut aliran subjektif.
Di luar kedua pendapat itu, ada pendapat lain yang menyatakan adanya nilai ditentukan oleh subjek yang menilai dan objek yang dinilai. Sebelum ada subjek yang menilai maka barang atau objek itu tidak bernilai. Inilah ajaran yang berusaha menggabungkan antara aliran subjektivisme dan objektivisme.
Contoh nilai adalah keindahan, keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, kerifan. Keanggunan, kerapian, keselamatan, dan sebagainya.

Norma sebagai perwujudan dari nilai
Nilai penting bagi kehidupan manusia, sebab nilai yang bersifat normatif dan menjadi motivator tindakan manusia. Namun demikia, nilai belum dapat berfungsi secara praktis sebagai  penunutun perilaku manusia itu sendiri. Nilai sendiri masih bersifat abstrak sehingga butuh konkretisasi atas nilai tersebut. Contohnya, manusia mendambakan keselamatan, tetapi apa yang harus dilakukan manusia agar terwujud keselamatan? Akhirnya. Yang dibutuhkan manusia adlah semacam aturan atau tuntunan yang bisa mengarahkan manusia agar terwujud keselamtan.
Jadi, nilai belum dapat berfungsi praktis bagi manusia. Nilai perlu dikonkretasikan atau diwujudkan ke dalam norma. Nilai yang bersifat normatif dan berfungsi sebagai motivator tindakan manusia itu harus diimplementasikan dalam bentuk norma. Nornma meru[akan konkretasi dari nilai. Norma adalah perwujudan dari nilai.
Contohnya, ada norma yang berbunyi “dilarang membuang sampah sembarang” atau “buanglah sampah pada tempatnya”. Norma di atas berusaha mewujudakan nilai kebersihan. Dengan mengiktu norma tersebut, diharapkan kebersihan sebagi nilai dapat terwujudkan dalam kehidupan. Ada norma lain, misalnya yang berbunyi “dilarang merokok”. Norma tersebut dimaksudkan agar terwujud nilai kesehatan. Akhirnya yang tampak dalam kehidupan dan melingkupi kehidupan kita bukan nilai, tetapi norma atau kaidah.

2.        Ciri-Ciri Nilai
Untuk memahami lebih mendalam mengenai sesuatu benda, baik benda nyata maupun benda tidak nyata. Itu dapat melalui cara mengetahui ciri-ciri dari benda tersebut. Sehingga kita dapat membedakan antara benda yang satu dengan benda yang lainnya. Ketika kita tahu ciri-cirinya maka kita dapat mengidentifikasi jnis benda tersebut. Begitu pula  dengan nilai. Untuk memahami dan mengetahui secara mendalam seperti apa nilai itu maka dapat dilihat dari ciri-cirinya.
Ciri-ciri nilai Menurut bambang daroeso, nilai memiliki ciri sebagai berikut :
a.         Suatu realitas yang abstrak (tidak dapat di tangkap melalui panca indra. Tetapi ada).
Nilai itu ada atau riil dalam kehidupan manusia. Misalnya, manusia mengakui adanya keindahan. Akan tetapi, keindahan sebagai nilai adalah abstrak (tidak dapat diindra). Yang dapat diindra adalah objek yang memiliki nilai keindahan itu. Misalnya, lukisan atau pemandangan.
b.         Normatif (yang seharusnya, ideal, sebaiknya, diinginkan).
Nilai merupakan sesuatu yang diharapkan (das solen) oelh manusia. Nilai merupakan sesuatu yang baik dicitakan manusia. Contohnya, semua manusia mengharapkan keadilan. Keadilan sebagai nilai adalah alternatif.
c.         Berfungsi sebagai daya dorong manusia (sebagai motivator).
Nilai menjadikan manusia terdrong untuk melakukan tindakan agar harapan yang terwujud dalam kehidupannya. Nilai diharapkan manusia seagai mendorong amnusia berbuat. Misalnya, siswa berharap akan kepandaian. Maka siswa melakukan berbagai kegiatan agar pandai. Kegiatan manusia pada dasarnya digerakkan atau didorong oleh nilai.


3.        Jenis-jenis nilai
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai berbagai nilai yang memanag jumlahnya cukup banyak dan bervariatif. Dan sekian banyak yang kita jumpai, nilai nilai dapat diklasifikasikan menjadi :
a.         Jenis-jenis nilai Menurut Prof. Drs. Notonegoro, S.H. menyatakan bahwa ada tiga macam nilai, yaitu :
1)        Nilai materiil, yakni sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
2)        Nilai vital, yakni sesuatu yang berguna bagi manusia unutk dapat melaksanakan kegiatan.
3)        Nilai kerohanian, dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :
a)        Nilai kebenaran bersumber pada akal pikiran manusia (rasio, budi, dan cipta)
b)        Nilai estetika (keindahan) bersumber pada rasa manusia.
c)        Nilai kebaikan atau nilai moral bersumber pada kehendak keras, keras hati, dan nurani manusia.
d)       Nilai religius (ketuhanan) yang bersifat mutlak dan bersumber pada keyakinan manusia.[2]
b.         Jenis-jenis dilihat dari segi filsafat
Berbeda dengan jenis-jenis nilai yang dikemukakan oleh Prof. Drs. Notonegoro, S.H. dilihat dari segi filsafat, nilai dapat diklasifikasi ke dalam tiga jenis, dientarnya :
1)        Nilai logika yaitu benar – salah
Nilai logika disni yaitu nilai mengenai benar atau salahnya tindakan/kejadian. Dalam hal ini nilai logika berkaitan dengan tindakan/kejadian yang dilakukan oleh seseorang. Sebagai contoh seorang siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, kemudian ia berhasil menjawab dengan benar, maka secara logika jawaban tersebut dianggap benar bukan baik, dan ketika jawabannya keliru maka secara logika jawaban tersebut dianggap salah bukan buruk.
2)        Nilai etika yaitu nilai tentang baik dan buruk
Nilai etik/etika adalah nilai tenteng baik-buruk yang berkaitan dengan perilaku manusia. Jadi, kalu kita mengatakan etika orang itu buruk, bukan berarti wajahnya buruk, tetapi menunjuk perilaku orang itu buruk. Nilai etik adalah nilai moral. Jadi, moral yang di maksudkan disini adalah nilai moral sebagai bagian dari nilai.
3)        Nilai estetika yaitu nilai tentang indah-jelek
Selain etika, kita juga mengenal pula estetika. Estetika merupakan nilai yang berkaitan dengan keindahan, penampilan fisik, bukan nilai etik. Nilai estetika berkaitan dengan penampilan, sedangkan nilai etik atau buruk moral berkaitan dengan perilaku manusia.



4.        Bentuk-bentuk nilai dengan kepribadian yang ada dalam organisasi dan masyarakat
Nilai dalam organisasi merupakan dasar utama untuk pengambilan keputusan dan tindakan lain, dan karena itu menentukan kerangka kerja dasar untuk pengambilan teori organisasi dan praktek manajemen.[3]
Nilai itu berkaitan erat dengan ideologi “kita menganggap nilai sebagai dalil normatif, yang diyakini orang tentang apa seharusnya keinginan manusia itu. Nilai ditunjang oleh sangsi dan fungsi yang dihayati sebagai keharusan dalam menilai bagaimana seharusnya dunia sosial seseorang itu distruktur dan dijalankan, yang kedua sebagai standar untuk menilai dan memperlakukan (rationalize) harta individu dan pilihan sosial”. Pendekatan ini menekankan nilai sebagai standar normatif yang mempengaruhi manusia dalam pemilihan mereka. Fungsi primer nilai dalam perilaku manajerial adalah bahwa ia merupakan determinan (faktor penentu) dan garis pedoman untuk pengambilan keputusan dan tindakan.
Bentuk-bentuk nilai yang ada di organisasi dan masyarakat, diantaranya :
a.         Penghargaan akan orang lain.
Organisasi merupakan kesatuan yang memungkinkan masyarakat mencapai suatu tujuan yang tidak dapat dicapai individu secara perorangan.[4] Dalam organisasi tentu terdiri dari beberapa orang tang mana setiap orang memiliki perbedaan pemikiran, perbedaan watak dan perbedaan sikap. Di sini perlu dikembangkan suatu nilai guna menyesuaikan setiap perbedaan-perbedaan yang di bawa oleh masing-masing individu. Sehingga perbedaan-perbedaan yang ada dijadikan suatu konflik dan pertentangan, melainkan sesuatu kekayaan yang patut untuk di hargai. Untuk itu dalm organisasi terdapat nilai penghargaan akan orang lain yang tercermin dalam sikap toleransi. Toleransi ini perlu sekali untuk dikembangkan dalam organisasi dengan tujuan guna mengembangkan sikap saling menghargai terhadap perbedaan-perbedaan.
b.         Percaya dan mendukung orang lain, sedangkan individunya sendiri harus mampu bertanggung jawab
Demi tercapainya tujuan bersama maka setiap anggota harus saling bekerja sama dan saling membantu, jangan bersikap individualistis dan bersikap apatis dengan lingkungannya. Setiap anggota wajib mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, dan anggota lain berkewajiban membantu anggota manapun yang mengalami kesulitan. Tindakan membantu ini merupakan salah satu bentuk dukungan dan kepercayaan kepada orang lain, dan dalam organisasi sikap ini sangat diperlukan, dengan begitu akan terbangun kerja sama yang baik antar anggota. Di samping itu, anggota tersebut selalu berkewajiban membantu, ia juga berkewajiban melaksanakan tugas-tugasnya dengan penuh rasa tanggung jawab.
c.         Pengamanan kekuasaan (mengurangi tekanan pada wewenang)
Setiap anggota organisasi tentu memiliki kekuasaan dan wewenang masing-masing, tergantung dari tugas yang ia harus di emban. Namun dalam hal ini hendaknya setiap anggota dibekali nilai pengamanan kekuasaan, dengan begitu ia tidak akan menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya untuk hal-hal pribadinya sendiri. Ia tetap harus bertindak dalam koridor-koridor kekuasaan dan wewenang yang layak ia memanfaatkan untuk melaksanakan tugas yang menjadi kewajibannya.
d.        Konfrontasi (masalah yang tidak disembunyikan)
Dalam hal ini kita berbicara mengenai keterbukaan, yang mana dalam organisasi segala sesuatunya harus terbuka. Namun hal ini keterbukaan yang di maksud bukanlah keterbukaan dalam hal-hal diluar masalah organisasi, melainkan segala sesuatu hal yang berkaitan dengan organisasi tersebut hendaklah disampaikan secara terbuka dan etiap anggota berhak mengetahui segala hal yang berkenaan dengan orgnisasi tersebut.
e.         Pertisipasi (melibatkan orang-orang yang mempunyai potensi dalam proses pengembangan organisasi)
Seperti yang sudah di paparkan sebelumnya, ahwa untuk mencapai tujuan yang di harapkan butuh adanya kerjasama dan partisipasi dari semua pihak yang terkait. Untuk itu dalam organisasi perlu dikembangkan nilai partisipasi demi tercapainya tujuan organisasi.

5.             Bentuk Nilai Yang Dianut di Sekolah.
Pada umumnya nilai-nilai yangdianut di sekolah sejalan dengan yang berlaku dalam masyarakat sekitarnya. Anak-anak dikirim ke sekolah dengan tujuan agar mereka dididik menjadi manusia sesuai dengan cita-cita masyarakat.
Norma-norma yang diajarkan di sekolah tidak boleh bertentangan dengan adat istiadat masyarakat sekitar. Antara sekolah dan masyarakat harus ada hubungan ddan kesesuaian mengenai norma-norma dan nilai-nilai. Dalam hal ini mungkin ada perbedaan antara norma-norma kelakuan yang diajarkan di sekolah di berbagai daerah di Negara kita, yang tentunya tidak boleh bertentangan dengan falsafah bangsa kita. Sehingga tidak dapat disangkal adanya banyak sedikit perbedaan antara norma kelakuan dan suasana di sekolah masing-masing. Tiap sekolah mempunyai kepala sekolah, guru, dan murid yang berbeda-beda. Tiap sekolah juga mempunyai tradisi tersendiri dan dapat mengeluarkan peraturan menurut keperluan sekolah itu sendiri selama tidak melanggar peraturan yang lebih tinggi.
Ada pula nilai-nilai dan norma kelakuan yang berlaku di kalangan murid-murid sendiri. Murid-murid biasanya merasa dirinya kompak, yakni bersatu padu terhadap murid-murid sekolah atau kelas lain, bahkan juga kompak terhadap guru. Perkelahian dengan sekolah lain sering terjadi karena rasa kekompakan atau solidaritas ini. Bila salah seorang murid dihina atau di tantang menurut tafsiran mereka, maka seluruh kelas atau sekolah berdiri dibelakangnya. Dalam hal ini mereka lebih dikuasai oleh emosi subyektif daripada fikiran rasional yang obyektif. Teman sendiri selalu pada pihak yang benar dan sekolah lain sudah pasti pihak yang bersalah.
Dalam hal nilai-nilai moral sekolah kebanyakan berpedoman pada norma-norma yang berlaku bagi golongan menengah, misalnya menghargai nilai-nilai seperti kejujuran, kebersihan, kerajinan, rasa tanggung jawab, ketekunan, ketertiban, dan sebagainya. Perbuatan seperti penipuan, kekerasan, pelanggaran seks,pencurian, dipandang sebagai kelakuan yang melanggar norma yang baik.[5]
Bila dalam keluarga murid dianut nilai-nilai yang sama, maka mereka tidak akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan kehidupan di sekolah. Kesulitan akan dialami murid-murid yang berasal dari golongan rendah atau tinggi yang mempunyai norma-norma yang berbeda dengan yang berlaku di sekolah.
Di sekolah nolai-nilai yang bertalian dengan aspek akademis atau intelektual mendapat penghargaan yang khusus. Sedangkan anak-anak yang terampil secara praktis kurang mendapat penghargaan. Apa yang dihargai oleh sekolah sering tidak sesuai dengan apa yang berharga dalam kehidupan di dalam masyarakat. Apa yang diketahui dan dikuasi anak dari pengalamannya di luar sekolah seperti keterampilan bertukang, bertani, memelihara ternak, dan sebagainya tidak dimanfaatkan di sekolah. Jadi apa yang di harapkan dalam masyarakat mungkin tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan apa yang diharapkan sekolah.
Menurut Paul Suparno,Dkk bahwa bentuk – bentuk nilai yang ada pada lingkup pendidikan, diantaranya :
a.         Religiusitas
1)      Mensyukuri hidup dan percaya kepada Tuhan
2)      Sikap toleran
3)      Mendalami ajaran agama
b.        Sosialitas
1)      Penghargaan akan tatanan hidup bersama secara positif
2)      Solidaritas yang benar dan baik
3)      Persahabatan sejati
4)      Berorganisasi dengan baik dan benar
5)      Membuat acara yang sehat dan berguna
c.         Gender
1)      Penghargaan terhadap perempuan
2)      Kesempatan beraktivitas yang lebih luas bagi perempuan
3)      Menghargai kepemimpinan perempuan
d.        Keadilan
1)      Penghargaan sejati dan orang lain secara mendasar
2)      Menggunakan hak dan melaksanakan kewajiban secara benar dan seimbang
3)      Keadilan berdasarkan hati nurani
e.         Demokrasi
1)      Menghargai dan menerima perbedaan dalam hidup bersama dengan saling menghormati
2)      Berani menerima realita kemenangan maupun kekalahan
f.         Kejujuran
Menyatakan kebenaran sebagai penghormatan pada sesama
g.        Kemandirian
1)      Keberanian untuk mengambil keputusan secara jernih dan benar dalam kebersamaan.
2)      Mengenal kemampuan diri
3)      Membangun kepercayaan diri
4)      Menerima keunikan diri
h.        Daya juang
1)      Memupuk kemampuan untuk mencapai tujuan
2)      Bersikap tidak mudah menyerah
i.          Tanggungjawab
1)      Berani menghadapi konsekuensi dari pilihan hidup
2)      Mengembangkan keseimbangan antara hak dan kewajiban
3)      Mengembangkan hidup bersama secara positif
j.          Penghargaan terhadap lingkungan
1)       Menggunakan alam sesuai dengan kebutuhan secara wajar dan seimbang
2)      Mencintai kehidupan
3)      Mengenali lingkungan alam dan penerapannya.[6]



6.             Cara Penanaman Nilai Pada Peserta Didik
Sikap-sikap yang terbentuk dari kebiasaan perlu di dalami dan diperkenalkan akan adanya nilai-nilai hidup yang mendasarinya. Anak mulai mengenal dengan jelas bahwa hal baik yang dilakukan dalam masyarakat, dalam hidup bersama akan membawa kegembiraan, kebahagiaan bagi semua orang. Kebiasaan berbuat baik dan bertanggung jawab terhadap akibat yang timbul dari perbuatan yang dilakukan haruslah menjadi cerminan tingkah laku sehari-hari.
a.              Religiusititas
Keterlibatan dan kepekaan social dapat menjadi sarana untuk mengembangkan sikap religiustitas. Melihat keprihatinan dan penderitaan hidup manusia, ajaran agama mana pun akan mengajak dan mendesak penganutnya untuk bertindak baik. Kegiatan sosial kemanusiaan menjadi tempat untuk mewujudkan religiustitas anak secara bersama dari berbagai macam agama dan kepercayaan yang ada. Kepekaan dan keterlibatan untuk membantu orang yang menderita merupakan penggilan bersama umat beragama. Perwujudan dari ajaran agama akan menjadi nyata dalam tindakan yang juga menyatukan semua orang dalam keprihatinan yang sama.
b.             Sosialitas
Pembinaan kelas bersama dapat menjadi sarana untuk mengembangkan sosialitas anak secara sehat, terdampingi, dan terarah. Kegiatan semacam ini sebaiknya diselenggarakan dirumah salah seorang siswa anggota kelas yang kira-kira mampu menampung anggota kelas. Dari sisi etika dan sopan santun hidup bersama, dapat disampaikan bagaimana sopan santun minta izin kepada orang tua teman sebagai pemilik rumah, pemberitahuan kepada RT atau lingkungan tempat kegiatan diselenggarakan. Dengan ini anak diajak untuk bersikap sopan dan menghargai apabila datang ke tempat orang lain atau ke lingkungan lain. Melalui aktivitas dan dinamika kelompok yang terencana dan terorganisasi dengan baik, siswa diajak bermain sekaligus merefleksikannya dalam kegiatan kehidupan kesehariannya, baik sebagai individu, anggota kelas, maupun sebagai anggota masyarakat.
c.              Gender
Dalam skope ilmu sosial kemasyarakatan, tuntutan akan kesadaran dan kesetaraan gender menjadi lebih mengemuka dan terbuka untuk di perbincangkan. Berbagai produk iklan yang ada di media massa, baik TV, radio, dan surat kabar yang cenderung mengeksploitasi dan merendahkan martabat perempuan menjadi topic diskusi untuk penyadaran akan hakikat dan harga diri perempuan. Siswa mulai diajak mencermati secara kritis perkembangan yang terjadi dalam masyarakat dan menggugah kesadaran untuk memperbaikinya secara bersama-sama sebagai bagian dari komunitas masyarakat. Dalam konteks ini kesadaraan terhadap kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupannya perlu ditanamkan secara baik, kontinu, dan realistis dalam kehidupan siswa.
d.        Keadilan
Konsep keadilan secara lebih luas dan konseptual perlu mulai diperkenalkan pada diri siswa. Prinsip adil bukan hanya sekadar sama rata dan sama rasa. Keadilan pada kenyataannya bersifat multidimensional. Namun demikian, pada dasarnya keadilan mempunyai tujuan da dasar nilai-nilai hidupnya, yaitu untuk perkembangan dan kesejahteraan hidup manusia. Adil dalam pengertian hukum tidak selalu sejalan dengan “rasa” keadilan dalam masyarakat luas. Siswa diajak untuk memperluas wawasan tentang keadilan, tetapi dasar semua hal itu ada didalam hati nurani manusia. Mendiskusikan kasus yang hangat dan mengajak anak untuk mengasah hati nurani guna menyikapi realitas yang ada adalah kesempatan yang kuat untuk menanamkan nilai keadilan secara mendasar dan manusiawi.

e.              Demokrasi
Kasus yang sering terjadi dilembaga DPR maupun DPRD berkaitan dengan pembukaan siding maupun pembahasan terhadap suatu aturan atau perundang-undangan yang terjadi akhir-akhir ini, yang tidak bisa dilihat secara kasat mata dan transparan melalui media massa, baik TV, Radio, maupun Koran menjadi sebuah contoh yang menarik dan cocok untuk diperkenalkan kepada siswa akan makna sebuah demokrasi dan tidak mudahnya mewujudkan nilai demokrasi yang sesungguhnya. Siswa dibuka pemikiran dan kesadarannya bahwa perbedaan yang mendasar antara demokrasi dalam teori ilmiah dengan demokrasi dalam realitas kehidupan sehari-hari. Dari berbagai kasus penyimpangan dan contoh yang tidak benar tersebut, dapat menjadi wahana yang tepat untukmembimbing anak mengenal demokrasi yang sebenarnya. Anak dapat diajak untuk bersikap secara benar dan baik di masa yang akan datang apabila mereka berperan dalam hidup bermasyarakat kelak.
Melalui pembahasan kasus-kasus yang muncul anak juga dilatih untuk mengkritisi kenyataan yang ada dan diajak untuk menentukan sikap dalam kehidupan mereka. Melalui diskusi-diskusi semacam ini, anak juga disiapkan agar tidak terperosok pada kesalahan yang sama, yang dilakukan para pendahulunya. Demokrasi tidak hanya sekedar suara yang banyak atau suara yang keras, namun demokrasi yang menuju pada kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan untuk mencapai kebaikan dan kesejahteraan bersama.
f.              Kejujuran
Salah satu mata pelajaran yang bisa dijadikan salah satu wahana dan sarana mengajarkan nilai-nilai kejujuran adalah mata pelajaran akuntansi. Mata pelajaran ini dapat dijadikan sarana bagi anak didik dalam bidang keuangan untuk menyampaikan laporan pertanggung jawaban secara benar dan transparan. Laporan keuangan ini dapat dijadikan sebagai alat untuk menilai apakah seorang bertindak jujur atau tidak. Pembukaan dapat juga digunakan untuk mencari keuntungan yang mengingkari kebenaran yang sehharusnya diungkapkan dalam pembukuan tersebut.
g.             Kemandirian
Kegiatan ekskul (ekstrakulikuler) merupakan ajang dan sarana yang tepat untuk melatih kemandirian anak. Bukan karena faktor kegiatan itu tidak di awasi dan dinilai oleh guru secara cermat, tetapi lebih kepada faktor keberanian siswa mengambil pilihan kegiatan, kemampuan mengorganisasi waktu pribadi, pengenalan kemampuan diri, dan kemauan untuk setia pada pilihan. Proses ini akan membawa siswa pada penggaliian potensi kemandirian berdasarkan sikap pribadi secara optimal.
h.             Daya Juang
Mengenal bakat dan kemampuan diri untuk dipilih potensi yang lain peridan membunuh nggalkan lih dan dikembangkan seoptimal mungkin tanpa meninggalkan dan membunuh potensi yang lain perlu dilakukan pada siswa usia ini. Sikap optimalisasi juga akan menumbuhkan daya juang untuk berkembang secara terus-menerus. Siswa tidak hanya merasa puas akan apa yang sudah dicapai, tetapi juga merasa ingin terus berkembang khususnya pada kemampuan potensial yang ada dalam dirinya.
i.               Tanggung Jawab
Kegiatan ekstrakulikuler (ekskul) dan non akademik yang beraneka ragam merupakan wahana dan sarana yang tepat untuk dapat membantu menumbuhkembangkan rasa tanggung jawab siswa. Kegiatan yyang dipilih pasti mempunyai konsekuensi, paling tidak dalam masalah pembagian waktu berkaitan dengan multiperan yang disandang setiap orang. Apabila ia terlalu bersemangat untuk mengikuti banyak kegiatan maka ada konsekuensi yang dipikul, yaitu waktu untuk belajar, mempersiapkan ulangan, menjalankan peran dan tugas di rumah, dan lain sebagainya. Tanggung jawab tentu berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban yang diemban seseorang. Guru dapat mengajak siswa untuk mengevaluasi dan mengkritisi kegiatan yang telah dipilihnya.
j.               Penghargaan terhadap Lingkungan Alam
Kelompok dan kegiatan pecinta alam merupakan wadah yang cocok untuk mengembangkan sikap mencintai lingkungan alam. Namun demikian, perlu ada penjernihan dan perluasan pengertian pecinta alam. Dalam banyak versi pencinta alam sering dimaknai dan dikonotasikan sebagai kegiatan petualangan belaka, kegiatan untuk menaklukan tantangan alam, petualangan untuk menunjukan cirikejantanan, kegagahan, dan keberanian.

Penjernihan dan perluasan pemahaman perlu dilakukan, yaitu bahwa pencinta alam adalah suatu kegiatan sungguh-sungguh mencintai alam dalam berbagai bentuk kemungkinan. Untuk mendukung kecintaan pada alam maka dibutuhkan sikapberani berpetualang sehingga dapat mengenali kehidupan secara luas. Namun demikian, mencintai alam pada dasarnya adalah kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, maka mencintai alam semesta berarti mencintai kehidupan manusia.


7.                  Jenis dan Tipe Kepribadian
Pembagian kepribadian manusia dilakukan oleh Gustav Jung dalam buukunya yang berjudul “Tipe Kepribadian”. Beliau mengemukakan bahwa kepribadian manusia terdiri dari dua jenis, yaitu :
a.              Introvert
Sikap introvert mengarahkan pribadi ke pengalaman subyektif, memusatkan diri pada dunia dalam, cenderung menyendiri, pendiam dan tidak ramah, bahkan anti sosial. Seseorang juga mengamati dunia luar, tapi mereka melakukannya secara selektif dan menggunakan pandangan subyektif mereka sendiri. Orang-orang yang introvert ditandai oleh kecenderungan mudah tersinggung, perasaan gampang terluka, mudah gugup, rendah diri, mudah melamun, sukar tidur, intelegensi relative tinggi, pembendaharaan kata-kata baik, cenderung tetap pada pendirian (keras kepala), umumnya teliti tapi lambat, mereka agak kaku dan kurang suka lelucon terlebih mengenai seks.
Ciri-ciri orang tipe introvert atau sulit bergaul, hatinya tertutup, sulit berhubungan dengan orang lain dan penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar kurang baik. Hal ini menyebabkan seseorang sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah sakit, dimana orang dihadapkan pada berbagai macam tindakan keperawatan dan orang yang tidak dikenal seperti dokter, perawat dan pasien lainnya.
b.        Ekstrovert
Sikap ekstrovert lebih mengarahkan pribadi ke pengalaman objektif, memusatkan diri kepada dunia luar,  cenderung berinteraksi dengan orang sekitar, aktif dan ramah.
Ciri-ciri tipe ekstrovert adalah mudah bergaul, suka pesta, mempunyai banyak teman, membutuhkan banyak teman untuk berbicara dan tidak suka membaca atau belajar sendirian, sangat membutuhkan kegembiraan, mengambil tantangan, sering menentang bahaya, berfrilaku tanpa berfikir terlebih dahulu, dan biasanya suka menurut kata hatinya, gemar bergurau, selalu siap menjawab dan biasanya suka akan perubahan, riang, tak banyak pertimbangan (easy going), optimis, suka tertawa dan gembira, cenderung menjadi agressiv dan cepat hilang kemarahannya, dan tidak selalu dapat dipercaya. Selain itu orang-orang ekstrovert, intelegasinya felatif rendah, pembendaharaan kata-katanya kurang, cenderung tidak tetap pada pendirian, umumnya cepat tapi kurang teliti, mereka tidak begitu kaku dan mereka menyukai lelucon terlebih mengenai seks.

8.             Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian individu
Faktor yang mempengaruhi kepribadian
a.    Faktor Keturunan
Ada tiga dasar yang menjelaskan bahwa faktor keturunan menentukan kepribadian seseorang, diantaranya yaitu :
1)        Berfokus pada penyokong generasi dari perilaku dan tempramen anak-anak. Bukti menunjukan bahwa sifat-sifat seperti perasaaan malu, rasa takut, dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik generasi bawaan.
2)        Berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Kepribadian anak kembar yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan saudara      kembarnya dibandingkan dengan kepribadian saudata-saudara kandung yang dibesarkan bersama-sama.
3)        Meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi.
b.      Faktor Lingkungan
Lingkungan atau tempat dimana kita tumbuh dan dibesarkan, norma dalam keluarga, teman-teman dan kelompok sosial dan pengaruh-pengaruh lain.[7]






BAB III
KESIMPULAN
1.        KESIMPULAN
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai merupakan suatu bentuk penghargaan serta keadaan yang bermanfaat bagi manusia sebagai penentu dan acuan dalam melakukan suatu tindakan.
Bentuk nilai yang ada di masyarakat dan di dalam organisasi berdasarkan referensi yang telah dibaca itu memiliki kesamaan, yang mana bentuk – bentuk nilai yang ada dalam organisasi dan di masyarakat, diantaranya :
a.         Penghargaan akan orang lain
b.         Percaya dan mendukung orang lain, sedangkan individunya sendiri harus mampu bertanggung jawab
c.          Pengamanan kekuasaan (mengurangi tekanan pada wewenang)
d.         Konfrontasi (masalah yang tidak disembunyikan)
e.         Pertisipasi (melibatkan orang-orang yang mempunyai potensi dalam proses pengembangan organisasi)
Sedangkan bentuk – bentuk nilai yang ada dalam dunia pendidikan, diantaranya :
a.         Religiusitas
b.         Sosialitas
c.         Gender
d.        Keadilan
e.         Demokrasi
f.          Kejujuran
g.         Kemandirian
h.         Daya juang
i.           Tanggungjawab
j.           Penghargaan terhadap lingkungan

Bentuk – bentuk kepribadian individu, diantaranya :
a.       Introvert
Orang yang berkepribadian introvert ialah mereka yang bersikap cenderung tertutup dan tidak terlalu suka bercanda gurau.
b.      Ekstrovert
Orang yang memiliki kepribadian ekstrovert ialah mereka yang bersikap cenderung terbuka dan suka dengan bercanda gurau.


2.        SARAN
Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya bahwa nilai merupakan penghargaan yang dapat berfungsi sebagai acuan yang bisa mengatur tingkah laku setiap orang, dengan adanya nilai diharapkan setiap orang dapat bertindak sesuai dengan norma yang diharapkan oleh masyarakat, denagn begitu dapat meminimalisir terjadinya bentuk – bentuk penyimpangan yang akan merugikan baik dirinya sendiri maupun orang yang ada di sekitarnya.












DAFTAR PUSTAKA

Fremont E Kast dan James E Rosenzwig.1995.Organisasi dan Manajemen.Jakarta:Bumi Aksara.

Herimanto dan Winarno.2011. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

James L Gibson,John M Ivancevich dan James H Donnelly JR.1996.Organisasi Perilaku
Struktur dan Proses.Jakarta:Erlangga.
Nasution.2011.Sosiologi Pendidikan.Jakarta : Bumi Aksara.
Nurul Zuriah.2008.Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif
Perubahan.Jakarta:Bumi Aksara


[1] Drs. Herimanto M.Pd M.Si, winarno S.Pd M.Si, ilmu sosial dan budaya dasar. Jakarta: Bumi Aksara, 2011, hal. 126-127
[2]  Ibid, halaman 128-129
[3] Fremont E Kast,James E Rosenzwig,Organisasi dan Manajemen,Jakarta:Bumi Aksara,1995,Hlm 33
[4] James L Gibson,John M Ivancevich,James H Donnelly JR,Organisasi Perilaku Struktur dan Proses,Jakarta:Erlangga,1996,Hlm 7
[5] Prof. Dr. Nasution MA, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 2011, hlm 133.
[6] Dra Nurul Zuriah M.Si,Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan,Jakarta:Bumi Aksara,2008,Hlm 39
[7] WWW.GOOGLE.COM


0 komentar:

Poskan Komentar